Posted on Berikan komentar

Stop Ghibah!

post agustus-min

Emang bener sih, kalau perempuan itu butuh mengeluarkan 20.000 kosakata per hari. Barangkali ini ya, yang menjadikan perempuan identik dengan label ‘tukang gosip’ atau ‘tukang ghibah’. Hmm, bener ga sih?

Nah, apa saja sih, yang menjadi pemicu ghibah ini? Coba kita urai, yaa..

Pertama, kurang sibuk dalam beramal dan beribadah. Kenapa demikian? Umumnya, orang yang punya cukup waktu untuk menggosip (meng-ghibah) karena mereka memiliki waktu luang yang banyak disia-siakan dan kemungkinan kurangnya pemahaman agama. Sehingga waktu yang dapat digunakan untuk belajar, tilawah, mengurus anak, mengurus rumah tangga, membaca dan aktivitas baik lainnya malah digunakan untuk ghibah.

Hmm, padahal, sebagian perempuan mengaku 1 hari yang bernilai sama dengan 24 jam itu, dirasa kurang untuk menyelesaikan aktivitas hariannya. Jadi, alangkah ruginya orang yang senang menyia-nyiakan waktu.

Kedua, hasad (iri hati)
Hasad (iri hati) dengan kelebihan atau keberuntungan yang dimiliki orang lain, yang tidak ada pada dirinya. Sehingga keinginannya, menjatuhkan dan menjelek-jelekkan orang yang dimaksud.

Ketiga, tidak berkonfirmasi dan meminta penjelasan (tabayyun).
Menyimpulkan atau menuduh bahwa seorang individu tidak baik tanpa meneliti terlebih dahulu kebenarannya, tanpa mempertimbangkan situasi, kondisi dan latar belakang realita kehidupannya.

Keempat, marah atau dendam.
Marah atau dendam karena barangkali seorang individu mampu mengunggulinya dalam hal prestasi. Sehingga ia merasa perlu menyebar fitnah untuk menjatuhkannya.

Kelima, lingkungan.
Lingkungan sekitar baik lingkungan internal maupun eksternal yang memiliki kebiasaan menggunjing (ghibah). Dan, demi solidaritas terhadap teman, saudara atau tetangga, akhirnya ikut larut juga dalam aktivitas menggunjing.

Keenam, candaan.
Kekurangan orang lain seperti misalnya, berambut keriting, hidung peseknya seseorang dan sebagainya, dijadikan bahan candaan yang bermuatan ghibah.

Ketujuh, cuci tangan terhadap perbuatan yang sama-sama dilakukan dengan si obyek ghibah.
Demi mencitrakan dirinya bersih atau lebih baik maka dibongkarlah aib si obyek ghibah.

Nah, itu di antaranya yang menjadi pemicu ghibah. Semoga kita dapat terhindar dari perbuatan-perbuatan yang memerangkap kita dalam kubangan ghibah. Nggak mau kan memakan bangkai (daging) saudaranya sendiri apalagi mentransfer pahala ke orang yang di-ghibahi.

“Dan, janganlah kalian saling menggunjing. Adakah di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hujurat : 12)

Dari berbagai sumber

~ nuha ~

#bahayaghibah
#pemicughibah
#tmf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *